#2 Sedikit Panas

jika pada akhirnya saya memilih merindukanmu dalam pelarian, bentangkanlah pita kemenangan untuk menyambut hayalku

kalau semudah itu aku memilih cinta, dirimu mungkin sudah ada dalam gengaman, namun karena cinta adalah nikmat ketuhanan, aku menyadarkan diri bahwa cinta bukan sebuah gengaman, cinta bukan kepemilikan, bukan juga sebuah status pengganti lajang. jadi mungkin artinya, aku bisa tetap mencintaimu meski tidak bisa bersamamu

berbahagialah kamu, orang yang jatuh cinta pada sumber cinta yang sama, sama agama, sama rasa, sama2 berjiwa manusia. dan sangat kasianlah kamu, jika rasa sudah menyatu dalam jiwa manusia, namun agama berkata kalau kamu berbeda. ia menjadi lebur dalam beda2 yang menjadi gemerlap dalam bianglala, menghempas jatuh saat tersadar gravitasi tak mau menopang. entah dimana saya berada, saya telah membawa ransel parasut berwarna ungu, mungkin saya menawarkannya untuk menggunakannya bersama, atau mungkin akan saya gunakan sendiri saat kamu melambaikan mengucap kata pergi, dengan senyum manis yang membuat parasut akan tetap kembali lagi.

katanya hati, ia sedang tidak berbicara dengan hatimu, ia berbicara dengan hati yang lain. tak apa, setidaknya ia mau bersalam dengan hatiku….

sebuah kata sederhana, entah bagaimana caraku mengucapnya, kau tetap bungkam dalam senyum

posisi yang sulit, bertahan – sakit, melawan – mati. aku memilih bertahan denganmu, melawan mati yang sakit

sayangnya kita tidak bisa memilih takdir seperti yang kita mau, kelemahan manusia yang manusiawi.

#2 sedikitpanas Januari II 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s