REFLEKSI KEMERDEKAAN, MERAH PUTIH YANG TAK PERNAH BENAR – BENAR BERKIBAR

Saya tidak menguraikan dengan sudut pandang intelektual yang terkadang saya sendiri harus 3 sampai 5 kali membaca ulang artikel yang menurut saya terlalu pintar untuk dipahami oleh orang seperti saya.

Ya, kita memang telah bebas dari penjajahan,

Namun jika bersedia menilik lebih jauh tentang maksud dari penjajahan, inti dari sebuah penjajahan adalah usaha penguasaan ekonomi yang membuat suatu negara bergantung pada negara penjajah.

Secara fisik negara kita sudah tidak lagi dijajah oleh negara lain, namun ini hanyalah bentuk pengertian konvensional dari penjajahan.  Sedangkan penjajahan dalam sisi ini sangat terlihat siapa yang kalah dan siapa yang menang, siapa yang lebih unggul dan siapa yang yang lebih lemah.

era penjajahan konvensional sudah berakhir jauh sebelum saya dilahirkan. Karena negara – negara yang pada dasarnya memiliki mental penjajah dan memang harus menjajah (1) telah merubah strategi penjajahan dengan strategi penguasaan dan pengendalian ekonomi.

Mungkin sudah banyak orang yang tau dengan ini semua, namun sayangnya, kita hanya dibuat tau pada saat peringatan hari kemerdekaan saja. Mungkin kita tau tapi tidak mau tau,,,

Pertama : kita dibuat bergantung oleh semua produk asing, dengan berbagai label investasi dan penguatan ekonomi.

Benar memang jika banyak warga negara kita terserap sebagai tenaga kerja, namun kita bekerja tidak hanya untuk sebuah kegiatan menghasilkan ataupun membuat produk, tapi pada intinya bekerja adalah usaha untuk menghasilkan keuntungan. Apapun produk yang dijual, tingkat keberhasilannya hanyalah ditunjau dari keuntungan, (bukan malah seberapa besarnya produk itu mencapai kalangan dilapis terbawah ) Dimanakah larinya keuntungan ini,,, terbang kenegeri diatas awan,,,,,,,

Kedua : kita dipaksa bergantung pada produk hasil usaha asing, usaha skala besar makin mempersempit usaha mandiri yang dirintis dari awal dengan modal kecil oleh masyarakat pribumi, mereka jelas tidak akan mampu bersaing dengan produk asing yang sudah eksis, jaya dan terkenal dari beberapa dekade yang lalu. Merekapun juga gencar mempromosikan produk mereka agar semakin hari kita semakin yakin, bahwa itu adalah kebutuhan pokok yang harus dibeli.

Ketiga : Kita semakin terbiasa dengan hiburan statis yang tanpa disadari telah banyak menghabiskan waktu dan membuang energi sia – sia. Coba anda hitung berapa jam orang disekitar anda yang memiliki BB, Modem dsb menghabiskan waktu dalam media pertemanan  untuk saling berkeluh kesah dan berpendapat bahwa begitu menyenangkannya memberi komentar atau melihat-lihat status/info orang yang meng-add atau yang ingin kita di-add. Padahal dengan setengah jam waktu yang digunakan untuk “bermain” itu, seharusnya sudah banyak hal yang bisa kita lakukan.

Kita sengaja dibuat untuk bergantung pada semua itu dan menghabiskan waktu kita dengan tidak melakukan apapun. Seperti balita yang selalu menginginkan mainan baru ketika ada sesuatu yang menarik dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib untuk dimiliki.

Keempat : Kita juga terbiasa dengan televisi yang telah menghipnotis otak kita untuk akrab dengan permainan cinta, lelucon bodoh, dan segala hal yang membuat kita terlihat senang namun telah menyumbangkan umur kita untuk menikmati “keindahan melamun dan berkhayal”. Kita dipaksa menjadi budak dinegeri sendiri, menjadi semut pekerja diistana emas, lemah tak berdaya melawan perintah Ratu koloni yang akhirnya disadari bahwa ia ternyata Poliandri.

Kelima : Coba anda teliti lebih dalam lagi siapa penguasa hasil tambang dan mineral di negeri ini, siapa pula penguasa industri dan otomotif, Sedikit nama dengan marga Indonesia disana. Kita masih tetap menjadi semut pekerja yang berdasi dan bergengsi tinggi, mempunyai harga diri dan tak takut mati, namun akhirnya menari didalam bui, dengan senyum tak berarti.

Keenam : dan lucunya lagi, kita malah memberi makan para penjajah itu dengan ekspor produk terbaik dari hasil bumi. Ikan, sayur, buah dll. Sedangkan bangsa sendiri malah memperoleh kualitas ke 3,4 dst. (karena kualitas 3,4 dst adalah produk gagal dari produk kualitas pertama yang diekspor) . kandungan gizi dari kualitas terbaik itu membuat bangsa lain pintar, sedangkan produk no 3, dst juga membuat kita lebih pintar mengambil pertimbangan memilih produk elektronik seperti BB dsb sebagai bahan pokok dan lebih berharga dari makan tuna 1 tahun penuh. Kita benar – benar menjadi ladang subur bagi negeri orang, dengan penduduk yang besar dan konsumtif. Meraka tidak mau mengekspansi Cina, karena anda tau sendiri dengan kekuatan ekonomi perdagangan negara itu, Indiapun juga menjadi pengecualian dengan kemampuannya untuk membangkitkan kekuatan dinegeri sendiri dan cukup anti dengan produk asing.

Akhirnya peta Indonesiapun yang menjadi gambar indah dengan pigura emas di meja kerja para pemimpin dunia.

Tidak perlu harus bersusah payah dengan 100.000 pasukan tempur. Cukup 1 hitman dengan kemampuan negosiasi, setuju dikertas atau setuju di 0,5 m x 2m. 1,5 m dpt ( dibawah permukaan tanah ). Dapat dipastikan kita tidak akan diserang oleh Amerika, Inggris dan sekutunya. Karena negara ini telah dikuasai sejak saya yang lahir pada 6 juni 1989 dan orang yang dilahirkan 46 tahun yang lalu (dari saya menulis artikel ini pada agustus 2011)  sadar kalau kita telah dikuasai. 1965 adalah awal penjajahan ini dimulai.

Dan jika harga minyak dari Indonesia yang dijual dengan nilai dolar dan kembali ke negeri ini dengan euro. Dapat juga dipastikan negeri ini akan makin maju. Dalam segi angka kemiskinan, pengangguran dan kriminal. Namun jika kita masih bersikukuh sebagai bangsa yang mampu bertahan dalam krisis. Dapat dilakukan dengan menetapkan batas penghasilan orang miskin dibawah 50 ribu sebulan. Dan dipastikan prosentase orang miskin di Indonesia kurang dari 5 %.

Minyak adalah salah satu pengendalian utama dari perekonomian dunia. Menghancurkan sebuah negara cukup dengan melambungkan harga minyak dengan cara taktis. Dengan prediksi habisnya minyak pada 10 tahun mendatang. Hal ini dapat menjadi peringatan dini tentang perkuatan benteng perekonomian dalam negeri.

Ironisnya makin banyak produk otomotif datang untuk menawarkan status sosial dan pilihan pundi – pundi amal untuk negara mana yang kita berikan. Dan jika pada saat harga minyak yang terlalu murah untuk ditukar nyawa bagi kaum miskin, uang yang seharusnya dapat kita gunakan membeli segalon air, telah kita sumbangkan jauh hari sebelum kita tau bahwa sumbangan itu sangat bermanfaat untuk menciptakan energi dan bahan bakar alternatif untuk kejayaan masyarakat dibangsa penjajah itu.

Para petinggi-petinggi negeri yang terhormat dan terbiasa memperoleh gelar tidak dengan hormat dari para politikus begitu asyiknya bermain dengan kursi putar yang nikmat untuk menari – nari di negeri impian. Hingga menganggap bahwa kemiskinan dan penderitaan rakyat sudah tidak ada lagi dan semuanya masih tetap baik – baik saja dan akan tetap baik – baik saja karena sudah terlihat bekerja lebih keras untuk kepentingan golongan yang menjadi bagian dari rakyat. Jadi jika ingin kepentingan anda diperjuangkan, jadilah golongan orang yang terlihat bekerja keras itu.

para politikus kita masih berkutat pada itu semua, masih ingin menikmati wisata kuliner untuk perut yang tak pernah kenyang. Masih ingin menapakkan kaki disetiap penjuru bumi. Namun pada akhirnya kepentingan itu hanya bermuara pada sebuah tempat sunyi yang terkadang jadi arena bermain tuyul – tuyul yang antre menunggu lowongan kerja.

Kita juga begitu terbiasa dengan budaya “gensi” yang sengaja diciptakan agar menjadi masyarakat yang konsumtif. Coba anda nilai bagaimana tingkat keberhasilan atau kekayaan seseorang diukur. Dari kendaraan yang ia miliki, dari cara berpakaian, dari apa yang dimakan dsb. Lambat laun kita menilai hal itu sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah dikalangan masyarakat. Padahal berbagai pihak yang kita elukan dengan menyebut “investor Asing” sangat banyak diuntungkan dari ini semua. Kita seperti memberi uang Cuma – Cuma agar dikenal sebagai orang yang sedikit terhormat. Hingga pada akhirnya kita tetap akan dikenal sebagai negara penting penyumbang devisa untuk negara lain.

Dan Pada akhirnya, jangan terlalu bermimpi tentang negara yang kaya, “gemah ripah loh jinawi” seperti kata kakek nenek kita dulu. Jangan terlalu banyak berkata tentang kejayaan bangsa kita dimasa lampau. Negeri ini telah terjun bebas kedalam penguasaan asing. Dan kitapun telah ditiupkan angin semilir yang berhembus menidurkan hati nurani. Tidur dari lahir hingga keperadilan Padang Mahsyar. Dan baru tersadar, bahwa kita tidak pernah melakukan apapun dalam tidur yang pernah kita hidupi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s