STRATEGI PERANG RAJA JAWA

Dalam kesusasteraan Jawa Kuno disebutkan adanya strategi perang frontal yang disebut wyūha. Misalnya kakawin Bhāratayūddha menyebutkan adanya 10 macam wyūha, yaitu
(1) wukir sagara wyūha (susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera),
(2) wajratikśna wyūha (susunan pasukan berbentuk wajra),
(3) kagapati/garuda wyūha (susunan pasukan berbentuk garuda),
(4) gajendramatta/gajamatta wyūha (susunan pasukan berbentuk gajah ngamuk),
(5) cakra wyūha (susunan tentara berbentuk cakra),
(6) makara wyūha (susunan pasukan berbentuk makara),
(7) sūcimukha wyūha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum),
(8) padma wyūha (susunan pasukan berbentuk bunga teratai),
(9) ardhacandra wyūha (susunan pasukan berbentuk bulan sabit), dan
(10) kānannya wyūha (susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis)
(Wiryosuparto 1968:30–40).

dalam karya sastra Kamandaka yang hanya menyebutkan 8 macam wyūha, yaitu
(1) garuda wyūha,
(2) singha wyūha (susunan pasukan berbentuk singa),
(3) makara wyūha,
(4) cakra wyūha,
(5) padma wyūha,
(6) wukir sagara wyūha,
(7) arddhacandra wyūha, dan
(8) wajratikśna wyūha
(Wirjosuparto 1968:29; Kats 1923:240)

siasat makara wyūha (Sumadio 1993:418, cat. no, 89) yaitu dengan melancarkan serangan dari dua arah, dari utara dan selatan. Pasukan yang menyerang dari utara hanya merupakan siasat yang memancing agar pasukan kerajaan Singhasāri keluar dari keraton. Siasatnya ini berhasil, karena dengan adanya serangan dari utara, maka pasukan Singhasāri di bawah pimpinan Raden Wijaya*7 dan Arddharaja, anak Jayakatwang yang juga menantu Kěrtanagara, menyerbu ke utara dan mengejar musuh yang selalu bergerak mundur. Pada waktu kekuatan di keraton Singhasāri lemah lalu pasukan. Jayakatwang yang berada di selatan menyerang keraton dan dapat membunuh Kěrtanagara yang sedang melakukan upacara keagamaan

Selain strategi yang melakukan serangan secara tiba-tiba, juga ada strategi perang yang dilakukans secara frontal, yaitu serangan yang dilakukan dengan berhadap-hadapan dan terbuka. Dari kesusateraan Jawa Kuna didapatkan gambaran bahwa dalam perang frontal, pasukan yang maju ke medan perang diiringi oleh tetabuhan. Sebagai contoh dalam kakawin

Arjunawiwāha pupuh 23.2–3 digambarkan situasi bagaimana di antara ramainya suara barisan tentara yang bersorak-sorak terdengar bunyi gendang, ketipung (terompet), gong, dan gemuruh tambur (Poerbatjaraka 1926:45–46; Wiryamartana 1990:104, 160).
Selama peperangan, tabuh-tabuhan tersebut terus dibunyikan, ini terlihat dari kalimat pada pupuh 25.5 yang menggambarkan bagaimana bunyi gong dan riuh genderang tidak lagi terdengar karena terkalahkan oleh oleh bunyi perisai berdentang-dentang, gemerincingnya golok, dan gelegar konta mengenai gajah. Ditambah dengan lenguhan orang yang menghembuskan nyawa, yang mengaduh, dan pekikan orang yang menyerang (Poerbatjaraka 1926:49; Wiryamartana 1990:107, 164).

jenis-jenis strategi perang yang disebutkan dalam Arthaśāstra adalah:
(1) dańůa (susunan pasukan seperti alat pemukul),
(2) bhoga (susunan pasukan seperti ular),
(3) mańůala (susunan pasukan seperti lingkaran),
(4) asamhata (susunan pasukan yang bagian-bagiannya terpisah),
(5) pradara (susunan pasukan untuk menggempur musuh),
(6) ůŕůhaka (susunan pasukan dengan sayap dan lambung tertarik ke belakang),
(7) asahya (susunan pasukan yang tidak dapat ditembus),
(8) garuůa (susunan pasukan berbentuk garuda),
(9) sañjaya (susunan pasukan berbentuk busur),
(10) wijaya (susunan pasukan menyerupai busur dengan bagian depan menjolok),
(11) sthūlakarńna (susunan pasukan yang berbentuk telinga besar),
(12) wiśālawijaya (susunan pasukan yang disebut kemenangan mutlak, susunannnya sama dengan sthūlakarńna, hanya bagian depan disusun dua kali lebih kuat),
(13) camūmukha (susunan pasukan dengan bentuk dua sayap yang berhadapan muka dengan musuh),
(14) jhashāsya (susunan pasukan seperti camūmukha, hanya sayapnya ditarik ke belakang),
(15) sūcimukha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum),
(16) walaya (susunan pasukan seperti sūcimukha hanya barisannya terdiri dari dua lapis),
(17) ajaya (susunan pasukan yang tidak terkalahkan),
(18) sarpāsarīi (susunan pasukan seperti ular yang bergerak),
(19) gomūtrika (susunan pasukan yang berbentuk arah terbuangnya air seni sapi),
(20) syandana (susunan pasukan yang menyerupai kereta),
(21) godha (susunan pasukan berbentuk buaya),
(22) wāripatantaka (susunan pasukan sama degan syandana, hanya semua pasukannya terdiri dari barisan gajah, kuda, dan kereta perang),
(23) sarwatomukha (susunan tentara berbentuk lingkaran),
(24) sarwatobhadra (susunan pasukan yang serba menguntungkan),
(25) ashőānīkā (susunan pasukan yang terdiri dari 8 divisi),
(26) wajra (susunan pasukan berbentuk wajra),
(27) udyānaka (susunan pasukan berbentuk taman yang terdiri dari 4 divisi),
(28) ardhacandrika (susunan pasukan berbentuk bulan sabit yang terdiri dari 3 divisi),
(29) karkāőakaśrěnggi (susunan pasukan berbentuk kepala udang),
(30) ariśőa (susunan pasukan dengan garis depan ditempati pasukan kereta perang, pasukan gajah, sedangkan pasukan berkuda menempati baris belakang),
(31) acala (susunan pasukan yang menempatkan barisan infanteri, pasukan gajah, pasukan kuda, dan pasukan kereta perang, berbaris ke belakang),
(32) śyena (susunan pasukannya sama dengan garuda),
(33) apratihata (pasukan kuda, pasukan kereta perang, dan pasukan infanteri berbaris ke belakang),
(34) chāpa (susunan pasukan berbentuk busur), dan
(35) madhya chāpa (susunan pasukan berbentuk busur dengan inti kekuatan berada di bagian tengah)

(Sharmasastry 1923:434–435; Wirjosuparto 1968:27–29).

One thought on “STRATEGI PERANG RAJA JAWA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s