Politik Ruang Makan

Mungkin ini yang jadi istilah saya untuk menggambarkan apa yang dilakukan rekan mengomentari peristiwa yang berkembang di ksatrian, semua bisa jadi subjek yang begitu hebatnya menanggapi masalah yang muncul. Ada yang seakan tau, mengerti dan paham dengan masalahnya, ada yang bisanya Cuma bilang iya, mantuk – mantuk, dan senyum sendiri. Apalagi kalau yang bilang senior, wah udah gak bisa ngapa – ngapain itu. Nunggu selesai, baru ia bisa ijin buat kembali.

Mungkin hal yang demikian bisa lebih baik daripada politik warung kopi ataupun yang lebih modern saat ini adalah politikus Facebook. Seperti bapak – bapak yang yang mengomentari keadaan negara ini, menanggapi hal politik yang didapatnya waktu nonton berita di TV. Tapi setelah kopi yang diseruputnya habis, politik yang dikomentarinya juga ikut hilang seiring asap rokok yang mengepul jadi asap bau. Mungkin ini bisa jadi ukuran untuk tingkat kesadaran masyarakat dalam memahami politik. Tapi ini juga lebih baik daripada hanya membatin masalah yang terpikirkan atau malah tidak mau tahu karena tidak mau berfikir sama sekali.

Rugi memang kalau kita hanya berkomentar tapi tidak bisa berbuat apa – apa. Yang hanya melepas energi pikiran dalam perkataan dan mungkin juga disertai dengan sanggahan yang bisa membuat otak mendidih jika terlalu asyik. Lebih baik daripada energi untuk berbicara itu hilang sia – sia. Kita dapat menuangkannya dalam tulisan seperti ini saja. Yang semoga bisa bermanfaat suatu saat nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s